Fanny Crosby telah mewariskan lebih dari 8.000 lagu rohani
bagi kita. Meskipun buta sejak umur 6 minggu, ia tidak memendam kepahitan
karenanya. Suatu hari seorang pendeta mengungkapkan rasa simpatiknya,
"Saya rasa, sungguh membangkitkan belas kasihan, bahwa Sang Pencipta tidak
memberi Anda penglihatan, padahal Ia memberikan banyak sekali karunia lain pada
Anda."
Dengan tangkas Fanny menjawab, "Tahukah Anda,
seandainya pada saat saya lahir saya bisa mengajukan permohonan, saya akan
meminta, agar saya dilahirkan buta?"
"Mengapa?" tanya rohaniman itu terperanjat.
"Karena bila saya naik ke surga nanti, wajah pertama
yang akan membangkitkan sukacita dalam pandangan saya adalah wajah Sang
Juruselamat!"
Kerinduan yang luar biasa! Dari sini kita bisa melihat, mata
hati Fanny tertuju pada satu hal, yaitu kemuliaan Allah dan Juruselamatnya.
Itulah yang membebaskannya dari kepahitan. Itulah yang, dalam pengertian
tertentu, membebaskannya dari kebutaan. Meskipun buta, ia "melihat"!
Bagaimana dengan Anda dan saya, yang memiliki indera
penglihatan yang sehat? Tidak jarang pandangan kita justru lebih tertuju pada
keadaan sekeliling – yang di saat tertentu bisa membuat kita terpukau, namun di
saat lain bisa pula membuat kita terpukul. Kita lalai untuk melihat dan
"menanti-nantikan kota
yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah" (Ibr.
11:10) bagi mereka yang hidup oleh iman. Kalau begitu, rasanya kita justru
perlu belajar dari Fanny Crosby! ***